DOSEN Program Doktor Psil UR dan Mahasiswa KKN UR Melaksanakan Penyuluhan Penerapan Iptek Untuk Petani Ikan Desa Sungai Geringging, Kecamatan Kampar Kiri

Sungai Geringging (Kampar Kiri). Dosen Program Doktor   dan Mahasiswa KKN  Universitas Riau melaksanakan pengabdian penyuluhan kepada masyarakat di Desa Sungai Paku dan Sungai Geringging, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar (16/08/2016).

Acara ini di laksanakan di desa Sungai Paku, untuk masyarakat Desa sungai geringging karena ditempat ini adanya Hatchery yang bisa digunakan untuk praktek langsung. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan dharma ketiga dari tridharma perguruan tinggi telah berhasil dilakukan oleh Prof. Sukendi sebagai ketua pelaksana, yang merupakan dosen Fakultas Perikanan dan ilmu Kelautan Universitas Riau dan juga menjabat sebagai Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan sasaran para  petani ikan yang ada di desa Sungai Geringging, Kecamatan Kampar Kiri, dengan tema “Penerapan Tekonologi Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemurus CV).  Kegiatan tersebut diikuti dengan antusiasme yang tinggi oleh para petani ikan yang ada. Tujuan kegiatan adalah melatih para petani ikan untuk melakukan pembenihan ikan baung dalam menghasilkan benih. Sebab selama ini para petani ikan mendapatkan benih untuk dibesarkan di kolam masih dibeli dari pedagang benih dengan harga cukup tinggi. Dengan dilakukan kegiatan ini diharapkan nantinya petani ikan yang ada akan dapat memproduksi sendiri benih ikan baung tersebt untuk dibesarkan di kolam yang dimiliki, sekaligus akan memperkecil biaya operasioanal, meningkatkan keuntungan dan kesejahteraan.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk teori dan praktek langsung ke lapangan tentang teknologi pembenihan ikan baung tersebut. Kegiatan ini juga dilakukan merupakan salah satu program mahasiswa Kukerta bimbingan Prof Sukendi yang ada di Desa Lipat Kain Selatan, Desa Sungai Geringing dan Desa Sungai Paku. Prof. Sukendi sebagai ketua pelaksana yang ahli dalam pembenihan dan pemuliaan ikan ini memberikan iptek mulai dari cara penyeleksian induk yang siap untuk dipijahkan secara buatan, cara penyuntikan dan pengurutan, fertilisasi dan pembesaran larva sampai ukuran benih yang siap untuk dibesarkan di kolam, keramba atau di restocking ke perairan alam. Seekor induk ikan baung betina matang gonad dengan  berat satu kilogram akan dapat menghasilkan telur sejumlah 160.000 butir, bila dari jumlah tersebut berhasil ditetaskan sampai ukuran benih 50 % saja berarti akan menghasilkan benih sebanyak 80000 ekor, dan sekarang harga benih tersebut adalah Rp. 350,-/ekor sehingga dari hasil pembenihan sekali pelaksanaan saja sudah dapat diperoleh uang sebesar Rp. 28.000.000.- sebut Prof Sukendi.

 

Dikatakan juga bahwa penerapan teknologi pembenihan ikan baung memberikan berbagai keuntungan, dari aspek ekonomi akan dapat meningkatkan keuntungan, dari aspek  budidaya akan dapat mengembangkan ikan yang selama ini semata-mata hanya diperoleh dari alam ke alam terkontrol dan yang paling penting adalah dari aspek lingkungan akan dapat menjaga kelestarian ikan tersebut dari alam, karena dengan membenihkan dan membesarkan ikan tersebut maka kebutuhan masyarakat nantinya terhadap ikan ini sudah dapat disediakan dari budidaya yang dilakukan. Sebagai penutup Prof. Sukendi mengimbau bahwa bila seorang petani ikan mendapatkan  ikan baung dari alam yang sedang matang gonad janganlah dikonsumsi, karena secara tidak langsung akan menggagalkan ikan yang seharusnya melangsungkan keturunannya dengan jumlah ratusan ribu ekor tersebut, tetapi lakukanlah pembenihan terhadap ikan tersebut karena akan mendapatkan keuntungan  sebesar Rp. 28.000.000.- (die)*